Selasa, 16 Juni 2009
Pamanda Murbagio Meninggal Dunia
Setelah menderita sakit yang lama dan parah akhirnya pamanda Murbagio bin Kusen Hadikusumo meninggal pada hari Minggu tanngal 31 Mei 2009 jam sekitar jam 10.00 wib. Setelah cukup lama dirawat RS Dungus madiun, Sabtu malam beliau menginginkan pulang ke Banjarsari. Di hadapan semua putra putrinya akhirnya beliau pulang ke rakhmatullah pada usia78 tahun.
Setelah kepergian pamanda Murbagio tinggal pamanda M Sasongko ( di Malang ) dan pamanda Mursidi ( di Medan ) yang tinggal dari keturunan Eyang Kusen Hadikusumo.
Kamis, 28 Mei 2009
Pamanda Murbagio Sakit
Habis mahgrib telepon rumah berdering dari yunda Murtiningsih meralat berita kalau pamanda Murbagio belum meninggal. Kami berdua tetap berangkat ke Banjarsari, menengok pamanda yang dirawat di RS Dungus.
Satu hal yang tidak pernah saya lupa dari pamanku ini. Sampai dengan pensiun beliau tetap istikomah menjalan tugasnya sewaktu berdinas di DinKes Madiun, meski itu dilakoninya dengan mengayuh sepeda setiap hari.
Kamis, 19 Maret 2009
AKHIRNYA DATANG JUGA !
Belum lama aku duduk di cafe di bilangan Delta Plasa melepas lelah sehabis mencari kado RaraAda perasaan tersekat dalam dadaku.Haru. Belum lama perasaan itu saya rasakan juga saat ananda Jatmikowati menikah pada tanggal 9 Maret 2009. Rasa syukur yang tak terhingga. Ada rasa lega dalam dada ini.
Sejenak aku terkenang akan Yunda Nunuk Handaru almarhum.Senyumnya.Keceriannya.Aku ingat juga akan janjiku kalau aku akan hadir saat Diyah menikah
Tapi bisakah aku menghadiri pernikahan nanda Diyah ?. Aku rasanya belum pulih betul setelah operasi jantung bulan kemarin.
Untuk ananda Wati dan Diyah selamat atas pernikahan kalian semoga Alloh selalu paring "pranoto" yang terbaik bagi kalian. Amin.
Senin, 26 Januari 2009
Oryza Bercerita

Cerita tentang Waktu
Saya menghabiskan malam tahun baru di Rumah Sakit dr. Sutomo Surabaya. Tiduran di atas selembar tikar di sisi selasar rumah sakit, saya tengah menanti ayah saya yang baru saja dioperasi jantung.
Sore hari hujan deras. Malam, saat hujan reda, saya mendengar kegaduhan di jalan raya. Suara sepeda motor yang berkonvoi dengan saringan knalpot yang dicopot memekakkan telinga. Saya membayangkan asap tebal di jalanan. Suara terompet, lalu beberapa kali terdengar sirene mobil patroli polisi.
Tak ada yang berubah setiap malam pergantian tahun. Ritual yang itu-itu saja: meniup terompet, meletuskan petasan, berkonvoi keliling kota, kembang api. Perayaan tahun baru tak ubahnya ritual agama kebudayaan pop.
Waktu memang selalu misterius. Kita lega tahun berganti, waktu berubah, hitungan kembali dari angka satu bulan satu. Seolah tahun kemarin adalah beban, dan awal selalu dikaitkan dengan harapan yang diperbarui.
Waktu selalu misterius. Saat zaman belum menemukan angka, manusia hanya mengenal siang dan malam sebagai penanda pergantian waktu. Manusia hidup samadya saja.
Namun saat waktu diangkakan, hidup manusia seolah dipercepat dan digelisahkan oleh target-target, sasaran-sasaran. Hidup kita tak lebih dari angka-angka: tanggal lahir, bulan, tahun, jam, menit, detik. Kecepatan menjadi Tuhan baru. Apa yang cepat dianggap baik: lulus cepat, kerja cepat, proyek selesai lebih cepat. Mungkin hanya cepat tua yang tak diharapkan.
Kita hidup dalam waktu yang tergese-gesa. Bahkan kita terlampau tergesa hanya untuk menanti lampu lalu lintas berubah dari merah menjadi hijau. Menanti 30 detik lampu merah rasanya berjam-jam.
Inilah kompetisi abad modern yang melampaui waktu. Hidup bersama waktu tak ubahnya hidup dalam sebuah olimpiade.
Lantas apakah yang akan menghentikan kita?
Kamis dinihari, 1 Januari 2009, saya dibangunkan oleh jeritan tangis perempuan. Masih pukul 01.32. Saya melihat seorang perempuan muda menangis hebat, dan tengah ditenangkan perempuan yang tampaknya lebih tua.
Saya mencerna: Ibu perempuan muda itu meninggal, setelah menjalani operasi jantung.
Beberapa orang yang tidur di lorong rumah sakit ikut terbangun. Tak ada yang bisa diperbuat. Perempuan muda itu pingsan.
Saya mendadak merasa kosong. Ketergesa-gesaan menjadi tak berarti. Saya teringat syair lagu kelompok musik kesukaan saya, Padi.
"Bukankah hidup hanya perhentian. Tak harus kencang terus berlari. kuhelakan nafas panjang tuk siap berlari kembali."
Selamat tahun baru 2009. (*)
Labels: Esai
0 comments:

04 January 2009
Bapak sudah Pulang ke Rumah
Bapakku sudah sehat lagi dan pulang ke rumah. Satu ring (cincin) yang disebut Tsunami Stand sudah terpasang di saluran darah menuju jantungnya. Saluran darah ini tersumbat oleh kerak, yang kemungkinan disebabkan oleh kebiasaan merokok yang sudah tak dilakukan lagi 20 tahun lalu.
Betapa berbahayanya rokok... (tak heran jika sebagian orang bersikeras melarang rokok).
Bapak pulang, dan disambut makanan kupang dari Mbak Mus. Enak sekali. Mbak Mus adalah istri adik kandung Ibu, Bambang Priambodo.
Ada banyak cerita dan fakta selama Bapakku dirawat di rumah sakit yang sebenarnya bagus untuk ditulis sebagai kritik bagi dunia kedokteran. Tapi aku menghormati keinginan Bapak agar tidak menuliskannya, demi kebaikan semua orang.
Tapi suatu saat aku tetap akan menuliskannya. Entah kapan. Bisa satu tahun lagi atau bahkan 20 tahun lagi. Selama aku masih hidup dan menjadi wartawan yang meliput pelayanan publik, aku akan tetap akan menuliskannya suatu saat kelak.
Karena aku yakin itulah fungsi jurnalisme: mengingatkan semua orang, apapun harga yang harus dibayar. Termasuk harga untuk diriku sendiri. Ini sesuatu prinsip, dan prinsip itulah yang dulu diajarkan ayahku: mengatakan apapun yang dianggap benar, walau itu pahit. (*)