Rabu, 12 November 2008

KETEMU TEMAN MASA SMP DI REUNI GONTOR


Jam 8.00 wib Sabtu tanggal 1 Nopember 2008, bus rombongan keluarga dari Surabaya berangkat dari kediaman Bapak Prof Dr. Mohammad Yogiantoro, Jl Cintandui No 3 Surabaya, menuju Ponpes Modern Gontor tempat reuni akbar keturunan Eyang Prawiro Kusumo.

Di dalam bus banyak saya temui famili yang belum pernah saya lihat sebelumnya, tapi banyak juga famili yang sudah saya kenal.Salah satunya dosen anaku Kiki di FK Unair , Prof.Yogi, Prof.Diani dan juga dr.TW. begitu Kiki memanggilnya yang mestinya juga dia berhak memanggil "dimas" kepada mereka semua karena aku "pakliknya" menurut urutan kefamilian.

mBak Nunuk Supardi sebagai ketua rombongan dibantu dinda dr.TW ( Teguh Wahyudi ). Kecerian saya lihat dari tiap wajah di dalam bis saat itu. Alunan suara dinda Udik (dr.TW) mengikuti lagu-lagu karaoke dari sound system bis, bergantian dengan famili yg lain. Meriah.

Jam 11.00 wib. rombongan sampai di kota Nganjuk. Rombongan berhenti untuk sholat dhuhur dan makan siang. Sebelumnya rombongan mampir di bekas rumah kediaman eyang Fakih yang biasa kita sebut Eyang Nganjuk yang telah diwakafkan kepada Ponpes Gontor dan saat ini dijadikan sevagai Islamic centre di Nganjuk.

dr.Teguh Wahyudi memberikan hal ihwal keberadaan rumah tersebut masa lalu, bergantian dengan mBak Nunuk Supardi.
Setelah sholat dhuhur dan makan siang rombongan meneruskan perjalan ke Gontor.
Saya dan istri juga adinda Avif Priyatmoko dan adinda Arum turun di Pagotan.

Hari Minggu tanggal 2 Nopember 2008 pagi saya berangkat bersama tim dokumentasi dari Banjarsari, (Ahmad Budi Wahyu Nugroho, Wahyu Susilo, Niken Edyanto) berang kat ke Gontor.


Minggu, 26 Oktober 2008

REUNI KELUARGA BESAR GONTOR

Tanggal 20 Oktober 2008, saya terima telepon dari Mas Yanto ( putro Bp. Fatkhurohman) bahwa saya ditunjuk menjadi kordinator dari Keluarga Besar Eyang Kusen Hadikusumo, dalam reuni Keluarga Besar Gontor.
Saya ditanya oleh anak saya apa hubungannya dengan keluarga Gontor.
Saya jelaskan waktu itu bahwa Eyang Buyut kita Eyang Prawiro Koesoemo mempunyai Putra-putri 6 orang :
1. Nyi Kustilah
2. Nyi Soeratmi Eyang Fakih (Gontor)
3. Ki Ali Soemowinoto
4. Nyi Moentek
5. Ki Ibrahim Soemopranoto
6. Ki Kusen Hadikusoemo (Banjarsari)
sekandung dengan Eyang yang menurunkan Keluarga Gontor. Jadi wajar kalau kita diundang dalam reuni tersebut.
Kapan ya kita bisa reuni Keluarga Besar Eyang Prawiro Koesoemo ?. Tentunya di Banjarsari.
Insya Alloh kalau data silsilah ini saya dapat akan saya upload di blog ini. Siapa Bisa membantu memberikan datanya ? (*)

KABAR DUKA

Innalillahi wainna ilaihi roji'un.
Kamis tanggal 16 Oktober 2008, kami menerima kabar dari Kanda Ahmad Budi Djatmiko Madiun, bahwa Ayunda Triretno binti Rajak Mangoensoedarso meninggal dunia. Beliau meninggal pada usia ke 90 tahun, tepat pada hari ulang tahunnya.
Jum'at 17 Oktober 2008 kami ke Madiun, saya, Pak Isno, Yunda Arie Suisno, Nanda Safarijanto Takziyah ke Madiun. Jenazah dimakamkan di makam keluarga di Balerejo ( Kebonsari, Madiun), setelah sholat Jum'at.

Satu kenangan yang tak bisa aku lupakan dari yunda Triretno ( Yu Rat kami memanggilnya ) adalah disiplin yang tinggi dan serba teratur / rapi, kemandirian yang selalu beliau tanamkan kepada sya waktu itu. Selamat jalan yunda. Semoga Alloh mengampuni segala dosa yunda, menerima amal baik yunda. Amin

Rabu, 24 September 2008

MENGINGAT KEMBALI KEBERADAAN KITA

Sejarah, Kehormatan dan Keberadaan Makam
(Sebuah Catatan Pengantar )



Tantangan terbesar yang dihadapi oleh manusia pada jaman modern adalah menghilangnya nilai-nilai identitas. Ini suatu proses yang alamiah, jika kita mampu mencermati realita yang ada.

Pertama, “menjadi modern” membawa konsekuensi semakin kaburnya batasan antar manusia. Manusia, tanpa membedakan suku, ras dan agama, bisa saling berkomunikasi tanpa hambatan apapun. Dalam hal ini orang sudah tak lagi memandang ikatan-ikatan tersebut. Orang dalam bermasyarakat, lebih memandang ikatan kepentinganlah yang paling sesuai.

- Kedua, keluarga sebagai ikatan emosional dan primordial yang terkecil mulai kehilangan fungsinya sebagai perekat. Ini bisa saja terjadi, jika antar anggota keluarga jarang saling berkomunikasi dan tidak memiliki persamaan pandangan. Jika kita menggunakan bahasa Islami, tali silaturrahmi yang renggang menyebabkan tak berfungsinya keluarga ini, tak terkecuali dalam sebuah keluarga besar.

Salah satu faktor utama yang menghapus ikatan primordial keluarga dalam hidup manusia, adalah mulai dilupakannya sejarah. Sebagian besar dari kita sudah mulai melupakan sejarah kita sendiri. Kerap kali kita menganggap remeh dan kesulitan untuk menjawab—pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti: “Siapakah kita?”, “Dari mana asal-usul kita?”, “Bagaimana kita ada?”, “Bagaimana kita dan keluarga kita dibesarkan?”.

Kita sering berpendapat bahwa masa lalu adalah sesuatu yang tak perlu dikenang, kecuali yang berkait langsung dengan kepentingan pribadi kita. Suatu pandangan yang naif bila mendasarkan semua pada kepentingan belaka. Akibatnya, kita tidak bisa menghargai apa arti perjuangan masa lalu, dan mulailah kita kehilangan salah satu nilai kemanusiaan dalam diri ini.

Banjarsari, suka atau tidak, adalah sejarah kita. Sengaja dilupakan atau tidak, ia adalah bagian dari hidup kita. Manusia tidak bisa lepas dari masa lalunya. Dan kita sekarang, salah satunya, dibentuk oleh masa lalu itu. Banjarsari ikut membentuk ikatan darah primordial kita, terlepas dari kita lahir di sini atau tidak. Juga terlepas dari kita pernah mengunjunginya atau tidak.

Ketika Kyai Muhammad bin Umar meretas keberadaan Banjarsari pertama kali pada 240 tahun yang lalu, mulailah cerita sejarah keluarga besar kita diguratkan. Berawal dari beliau menerima hadiah dari Kasultanan Mataram atas jasa beliau berhasil meredakan pembrontakan yang dilakukan oleh Pangeran Singosari (Malang). Hadiah tersebut berupa tanah yang harus dibabat sendiri oleh beliau. Lahirlah desa perdikan kecil ini, Banjarsari. Dari sinilah lahir sebuah keluarga besar dengan nilai-nilai identitas yang khas. Nilai-nilai identitas yang banyak diwarnai oleh nilai-nilai moral luhur religius (keagamaan), yang diwariskan kepada anggota keluarganya secara turun-temurun. Nilai identitas ini adalah kekuatan mengakar, yang sadar atau tidak, banyak mempengaruhi perilaku hidup kita di masyarakat.

Kyai Muhammad bin Umar memang bukan sekedar pionir (pemrakarsa) fisik, tapi juga pionir spiritual. Beliau tidak hanya membangun tempat tinggal bagi kelompok masyarakatnya tetapi juga bagi masyarakat masa depan yang apik dan rapih. Tidak hanya memberikan warisan harta benda berupa desa Banjarsari saja. Lebih dari itu, beliau telah mewariskan Islam, agama yang tak ternilai harganya bagi kita semua, bekal menuju kampung akhirat.

Beliau membangun dan memberikan pondasi Agama Islam yang kita imani sekarang, dengan membangun Pondok Pesantren yang menampung ± 1000 orang santri. Nilai spiritual yang hingga kini tetap kita yakini sebagai jarum petunjuk arah langkah kehidupan kita. Nilai-nilai inilah yang terus hidup dan membesarkan generasi-generasi baru yang sedikit banyak ikut mewarnai sejarah perjalanan bangsa ini.

Kyai Muhammad bin Umar memang telah lama terkubur di bawah tanah. Beliau kini, mungkin, hanyalah sebuah nama masa lalu yang tenggelam di antara sekian nama besar dan nama baru. Makam beliau kini mengalami kerusakan berat dan nyaris tak terurus. Tragis, bila kita mengingat besarnya jasa beliau yang telah membuka/membabad hutan membangun sebuah desa Islami, desa perdikan Banjarsari.


Dan, suka atau tidak, juga mulai menghilang dari benak kita, cucu-cicit beliau. Ironis ! Akankah falsafah hidup “Mikul Dhuwur, Mendhem Jero” hilang ditelan kehidupan modern. Islam tidak mengajarkan demikian. Pada setiap selesai sholat kita disunnahkan mendoa bagi leluhur dan para syuhada, saudara se-agama dan se-iman.

Bung Karno pernah wanti-wanti agar selalu ingat sejarah. Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Ucapan beliau benar adanya, karena tanpa itu, nilai-nilai identitas yang telah dengan susah payah dibangun dan diwariskan akan kehilangan maknanya. Sekian. (*)
Catatan : Sekarang Keadaan makam sudah cukup bagus rapi. ( mazwink)

KETEMU KANGMAS PUTRA PAK DE KAMAL

Jam 10.00 wib, aku buka blogku maunya ingin menambah tulisan. Alhamdulillah kotak pesan tertulis pesan baru, yang aku mengira sama sekali kalau beliau putra dari pak De Mohammad Kamal putro Eyang Guru.
Kakangmas Chandra, yang wajahnya baru saya lihat sekarang lewat foto.
Matur nuwun kangmas

Pak Kamal begitu kami memanggil Pak De, mengingatkan aku 40 tahun yang lalu. Saat itu aku masih SMA. Untuk menambah uang jajan, aku mencoba berternak ayam ras. Saat itu terjadi "pageblug" ayam. Pagi sakit sore mati. Kalau jaman sekarang mungkin dinamakan flu burung dan akan menggegerkan Depkes.

Pertengahan Romadhon pak Kamal " rawuh " dari Jogja. Beliau waktu itu "ngasto" sebagai dosen di FKH universitas Gajah Mada. Mengharap bisa memberikan advis solusi menghindar dari wabah penyakit ayam yang ganas aku minta advis kepada beliau.
Dengan entengnya beliau menjawab : " belehono kabeh ojo kok sisakne " maksudnya sebelih saja semua tanpa sisa, kalau perlu kandangnya dibakar. Aku kok terus ingat penanganan flu burung jaman sekarang yang memakai cara itu juga ( Bakar habis ).

Pak Kamal mestinya usianya sudah hampir 80 tahun. Sudah lebih 25 tahun saya tidak ketemu beliau. Dulu sih waktu mudanya pakKamal termasuk PENDEKAR ( Pendek Kekar ) tapi ngganteng.
Kapan ya bisa ketemu ? (*)