Kamis, 15 Juli 2010
Kisah Sang Profesor
Kisah singkat pernikahan dg istri ke 2 Siti Noer Syamsidar.
Tak menyangka pada suatu pagi hampir sepuluh tahun yang lalu, kami sekeluarga kedatangan serombongan tamu orang-orang alim. Kyai Pondok Ngabar ( Kyai Iskhak ), Bapak Syamsuri , Bapak Zainuri, Ponorogo dan masih ada beberapa orang, tak ketinggalan dr. Atik dan Mas Anang adik dan putra kandung Bp. Imam Mukhlas.
Saya tidak menyangka kalau pagi itu rombongan itu akan melamar adik Kami Siti Noer Syamsidar ( Adik Kandung Siti Noer Riefatien, istri saya ).
Singkat cerita terjadilah pernikahan itu. Setelah terjadi pernikahan, ternyata ibunda Bp. Imam Mukhlas Ibu Ropi'i adalah sepupu ibu saya Siti Karlinah Binti Khusen ( Banjarsari ).
Jadi saya tunggal buyut sama Pak Imam Mukhlas.
Sekarang Sang Profesor ini menganggap saya ini sebagai mertuanya
Terus berkarya Prof. (**)
Baca selengkapnya di :
http://decazuha.multiply.com/journal/item/4
Minggu, 21 Juni 2009
NAPAK TILAS EYANG MANGUNARSO OLEH IKBM SURABAYA

Sekitar tahun 1975 (?) diadakan reuni akbar trah eyang Mangunarso di “dalem ageng” Balerejo rumah pusaka peninggalan eyang Mangunarso. Hadir saat itu famili-famili dari Jakarta, Bandung, Semarang, Jogya, Sala, Surabaya dan Madiun sebagai tuan rumah.
Untuk keakraban sekaligus napak tilas dan ziarah IKBM cabang Surabaya dipimpin oleh ketuanya Bapak Abdurrohim putro Eyang Suwandi akan mengadakan pertemuan di “ndalem ageng” Balerejo pada tanggal 27 s/d. 28 Juni 2009.
Insya Alloh silsilah Eyang Mangunarso akan saya tulis pada kesempatan mendatang.(*)
Rabu, 24 September 2008
KETEMU KANGMAS PUTRA PAK DE KAMAL
Kakangmas Chandra, yang wajahnya baru saya lihat sekarang lewat foto.
Matur nuwun kangmas
Pak Kamal begitu kami memanggil Pak De, mengingatkan aku 40 tahun yang lalu. Saat itu aku masih SMA. Untuk menambah uang jajan, aku mencoba berternak ayam ras. Saat itu terjadi "pageblug" ayam. Pagi sakit sore mati. Kalau jaman sekarang mungkin dinamakan flu burung dan akan menggegerkan Depkes.
Pertengahan Romadhon pak Kamal " rawuh " dari Jogja. Beliau waktu itu "ngasto" sebagai dosen di FKH universitas Gajah Mada. Mengharap bisa memberikan advis solusi menghindar dari wabah penyakit ayam yang ganas aku minta advis kepada beliau.
Dengan entengnya beliau menjawab : " belehono kabeh ojo kok sisakne " maksudnya sebelih saja semua tanpa sisa, kalau perlu kandangnya dibakar. Aku kok terus ingat penanganan flu burung jaman sekarang yang memakai cara itu juga ( Bakar habis ).
Kapan ya bisa ketemu ? (*)
Jumat, 15 Agustus 2008
PAMANDA DR. MOH SASONGKO

Dari lima bersaudara dari ibunda kami :
1.Siti Karlinah ibunda kami
2. Murdadyo
3. Murbagio, tinggal di Banjarsari Wetan, Dagangan ,Madiun
4. Mohammad Sasongko, Tinggal di Perumahan Bukit Permai, Dau - Malang
5. Mursidi, tinggal di Medan.
Tinggal no 3 sd. No 5 yang masih hidup. Sewaktu kami keluarga Besar Poernomo menghadiri pernikahan Ananda Ato’ bin AB Pinandoro di Malang, kami sempatkan untuk sowan ke Pamanda Moh.Sasongo di Dau. Rasa haru melingkupi jiwa kami yang sowan saat itu. Betapa tidak Pak Sas sudah ” tidak bisa ” melihat lagi dengan jelas, karena katarak yang mendera penglihatan beliau tahun-tahun terakhir ini.
Betapa terharunya kami, kerinduan yang sekian puluh tahun terpendam seakan tertumpahkan saat itu. Kami menangis, membayangkan betapa berat beban beliau. Di saat-saat beliau membutuhkan pendamping beliau harus tinggal ”sendiri” dalam temaramnya dunia.
Sebagai seorang dokter ,terlontar keinginan beliau untuk pulang ke Banjarsari merawat kakandanya Murbagio. Tetapi keinginan itu dipupus sendiri bukankah beliau sendiri kesulitan beraktifitas, karena selain didera penyakit katarak belaiu juga kesulitan gerak karena vertigo dan sakit di tulang belakang, sehingga harus menjalani perawatan rutin di RSU.
Pernah terlontar keinginan beliau untuk melakukan oprasi katarak dengan metoda baru. Namun karena biaya itu sangat mahal ( delapan juta rupiah ) nampaknya beliau menunda dulu keinginan itu. Aku sudah konfirmasi ke RS Mata Undaan. Malah beliau sudah mengutarakan keinginan tinggal di tempatku selama pengobatan.
Kalau saja aku punya rejeki untuk mengobatkan kataraknya. Ingin rasanya aku meringankan penderitaan pamanku ini.
Satu hal yang bisa kami jadikan tauladan dari pamanku ini adalah Kejujurannya, kesederhanaannya. Meskipun beliau saat itu menjabat sebagai Kakanwil Kesehatan TIM TIM dan Kaltim, dan terakhir dosen Wida Iswara tidak seorangpun dari keponakannya ”dipaksa’ masuk jadi PNS meski peluang untuk melakukan KKN sangatlah besar. Alhamdulillah, beliau terselamatkan dari perbuatan itu, meski akhir sisa umurnya kekurangan harta.
Mudah-mudahan jadi bekal saat beliau menghadap kepada sang Khaliq, sehingga menjadi khusnul khotimah. Amin (*)
Senin, 28 April 2008
Keluarga Ahmad Budi Handaru
Kunjungan Menjelang Pernikahan Arif Budi KurniawanBulan Maret 2008 kakanda Ahmad Budi Handaru datang kerumah kami dan ke "seluruh" keluarga di Jawa Timur. Mohon doa restu pada ibunda Ny Poernomo di Banjarsari, berkaitan dengan niat beliau untuk punya hajat menikahkan ananda Arif Budi Kurniawan.
Berempat kami duduk menunggu jemputan. Adinda Jun menelpon Suwarno "Putro" asuh kanda Ahmad Budi Djatmiko yang telah mukim di Cirebon ,sebagai petugas penjemput tamu keluarga. Dia menjawab bahwa yang akan menjemput adalah ananda Arif sendiri, jam 4.00. Di samping kami duduk seorang pemuda ngganteng sibuk dengan HP nya sesekali ia menoleh kepada kami, tanpa sepatah katapun terucap. Kami berbincang tentang Kanda Handaru dan nanda Arif .
Nampaknya pemuda sebelah kami ini ikut mendengarkan perbincangan kami. Dengan sopannya ia bertanya apakah kami akan menghadiri pernikahan Arif Budi Kurniawan, kami jawab " iya ". Ia memperkenalkan diri namanya SETIYO , ia teman karib Arif semasa SMA sampai sekarang. Ia kerja di Perum Angkasa Pura III yang dinas di Bandara Juanda Surabaya . Ia datang jam 2.30 ia menunggu jemputan seperti halnya kami.
Jam 4.10 ananda Arif menjemput. Kami langsung ke Masjid At Taqwa ( ?) untuk sholat shubuh. Habis sholat kami "digiring" nanda Arif ke warung nasi jamblang yang pernah kondang lewat acara wisata kulinernya Bondan Winarno.
Setelah sarapan kami diantar ke Sumber rumah pondokan dekat tempat hajatan . Hari itu Sabtu tanggal 5 April 2008, akan dilangsungkan pernikahan gelombang 1.
Ananda Arif sendiri akan menikah pada gelombang ke 2 hari minggu 6 April 08 bersama-sama dengan pasangan yang lain. (*)
Selasa, 08 Januari 2008
Idul Fitri 1428 H Di Banjarsari
Lebaran 1428 H. Kumpul di "ndalem" besar keluarga Soemoatmodjo. Kel. Ahmad Budi Wirawan - Surabaya
Kel. Ahmad Budi Edyanto - Blitar
Kel. Ahmad Budi Priyatmoko - Surabaya.
Kel. Mohammad Purwidiantoro - Jogya
Kel. Ghofar - Malang
Kel besar Eyang Oem. Eyang putri dsb. sebagian kecil dari keluarga besar kita. Kapan kumpul lengkapnya ?