Sabtu, 20 September 2008
PERTANYAAN SEORANG GURU
Lalu beliau mengajukan enam pertanyaan.. ..
Pertama...
"Apa yang paling dekat dengan diri kita di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab.... "orang tua", "guru", "teman", dan
"kerabatnya" ..
Sang Guru menjelaskan semua jawaban itu benar...
Tetapi yang paling dekat dengan kita adalah "kematian".. ..
Sebab kematian adalah PASTI adanya....
Lalu Sang Guru meneruskan pertanyaan kedua...
"Apa yang paling jauh dari diri kita di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab... "negara Cina", "bulan", "matahari", dan
"bintang-bintang" ...
Lalu Sang Guru menjelaskan bahwa semua jawaban yang diberikan adalah
benar...
Tapi yang paling benar adalah "masa lalu"...
Siapa pun kita... bagaimana pun kita...dan betapa kayanya kita... tetap kita
TIDAK bisa kembali ke masa lalu...
Sebab itu kita harus menjaga hari ini... dan hari-hari yang akan datang..
Sang Guru meneruskan dengan pertanyaan yang ketiga...
"Apa yang paling besar di dunia ini...???"
Murid-muridnya ada yang menjawab "gunung", "bumi", dan "matahari".. ..
Semua jawaban itu benar kata Sang Guru ...
Tapi yang paling besar dari yang ada di dunia ini adalah "nafsu"...
Banyak manusia menjadi celaka karena memperturutkan hawa nafsunya...
Segala cara dihalalkan demi mewujudkan impian nafsu duniawi ...
Karena itu, kita harus hati-hati dengan hawa nafsu ini... jangan sampai
nafsu membawa kita ke neraka (atau kesengsaraan dunia dan akhirat)...
Pertanyaan keempat adalah...
"Apa yang paling berat di dunia ini...???"
Di antara muridnya ada yang menjawab... "baja", "besi", dan "gajah"...
"Semua jawaban hampir benar...", kata Sang Guru ..
tapi yang paling berat adalah "memegang amanah"...
Pertanyaan yang kelima adalah... "Apa yang paling ringan di dunia ini...???"
Ada yang menjawab "kapas", "angin", "debu", dan "daun-daunan" ...
"Semua itu benar...", kata Sang Guru...
tapi yang paling ringan di dunia ini adalah "meninggalkan ibadah"...
Lalu pertanyaan keenam adalah...
"Apakah yang paling tajam di dunia ini...???"
Murid-muridnya menjawab dengan serentak... "PEDANG...!! !"
"(hampir) Benar...", kata Sang Guru
tetapi yang paling tajam adalah "lidah manusia"...
Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati... dan
melukai perasaan saudaranya sendiri...
Sudahkah kita menjadi insan yang selalu ingat akan KEMATIAN...? ??
senantiasa belajar dari MASA LALU...???
dan tidak memperturutkan NAFSU...???
Sudahkah kita mampu MENGEMBAN AMANAH sekecil apapun...???
dengan tidak MENINGGALKAN IBADAH....?? ?
serta senantiasa MENJAGA LIDAH kita...???
Selasa, 16 September 2008
PAK PRIYATMOKO PUNYA CUCU

Jam : 19.30 wib
Berat badan : 3,5 kg.
Panjang : 50 cm
Kelihatan sangat bahagia ayahandanya Arif Khorul Anam maupun ibunya Rahma Prifianti Azizah.
Alun begitu mereka memanggil anak kesayangannya kependekan dari ALUNA KHAIRANI NUR ADZKIA, " embuh mas artinya opo " ? jawab dinda Afif waktu saya telepon siapa namanya. Konon artinya, "Cahaya Keindahan/ kebaikan di bulan yang suci".
Rabu, 20 Agustus 2008
CUCU KAMI KE 3 LAHIR
Rabu jam 00.05 Hp ku berbunyi, suaranya tertawa Neo cucuku menandakan bahwa panggilan itu dari Oryza anakku. Ibunya yang menerima panggilan itu.
“ Ibu Henny mengeluarkan cairan Bu. Ini kenapa bu ? “ tanya Ryza
“ Cepat bawa ke RS Riz, itu tanda-tanda mau melahirkan “, tukas ibunya.
” Tenang Riz itu tanda-tanda biasa untuk proses kalahiran ”, ibunya menenangkan.
Doa kami di Surabaya mengiringi proses kelahiran Henny.
Jam 6.00 saya telepon ke Jember menanyakan perihal perkembangan Henny.
” Ini sudah bukaan 6 Pak ”, jawab Ryza. ” O itu agak siang Riz lahirnya tambah ibunya.
Jam 8.45 suara renyah tawa Neo terdengar lagi dai HP ku tanda ada panggilan dari anakku. Saya lihat memang dari Oryza.
Saya angkat telepon itu : ” Hallo, assalamu’alaikum Pak, alhamdulillah pak Henny sudah melahirkan Pak ”, nada gembira dan isyarat rasa bahagia di suara itu.
Hari tu hai Rabu tanggal 20 Agustus 2008, jam 7.55 wib. atau tanggal 18 Sya'ban 1429 H
Rasa tersekat dalam dadaku. Sukur yang tak terhingga . Alhamdulillah..........alhamdulillah, alhamdulillahirobbila’alamin ya Alloh. Rasanya aku sudah tidak sanggup lagi meneruskan kata-kata, HP saya berikan keadaan ibunya. Tak terasa bulir-bulir air mata tua ini keluar dari mataku. Air mata syukur, teriring ucapan doa harapan Ya Alloh jadikanlah cucuku ini cucu yang sholeh, sebagai hambamu yang akan selalu jadi pembela Islam penerus ajaran Nabimu Muhammad saw. Dan menjadi penghibur bagi kedua orang tuanya. Amin.
Dering telepon rumah berdering saya angkat :’ Selamat Pak De ya , nampi wayah maneh alhamdulillah melu seneng aku. Mugomugo Aan lancar ugo kaya Henny ”. Itu ucapan selamat pertama yang saya terima dari Dinda Avivah Priyatmoko.(*)
Senin, 18 Agustus 2008
HATI YANG TERLUKA
Oleh : Ahmad Budi Handaru Purnomo Putro, Arek Suroboyo.
Kini orang-orang menyebut kami, laskar tak berguna ..........
Sebab tlah tua renta memang, didera usia yang tlah senja.
Tapi manakala terdengar kembali pekik
Merdeka.........., merdeka................, merdeka.....................
Serta berkumandangnya alunan Indonesia Raya disertai kibaran Merah Putih Sang Saka.
Maka darah jiwa mudaku bergelora kembali
Teringat, menerawang jauh akan kisah-kisah di masa revolusi yang tlah kualami
Sang patriot pejuang dengan semboyan ” Merdeka atau Mati
Bersatu padu tuk satu tujuasn demi berdiri dan tegaknya ibu pertiwi
Yang tak terasa sudah 63 tahun kini, kita peringati.
Kenyataan sudah bisa hidup di alam merdeka
Tapi para pejuang didera ” Rasa Heran serta Tanda Tanya ”
Dengan diikuti kecewa
Hendak dibawa kemana Republik Indonesiaku tercinta ini ?
Yang ternyata tuk rebutan orang-orang sok pengin kuasa semata.
Kebanyakan anak bangsa penerus cita-cita
Tak menghayati makna arti proklamasi
Yang seharusnya diisi dengan hati nurani
Meskipun kini sudah didengung-dengungkan istilah reformasi, yang disertai dengan banyak aksi-aksi
Sangat memprihatinkan dan melukai perasaan sang pejuang
Sudah sekian lama merdeka, tapi keadaan masih tak enak dipanang dan disandang
Bagimana tidak, antar sesama saling tendang
Saling sikut hasut untuk mencari menang
Semrawut-semrawut
Semuanya kepinginnya berebut
Semua terlibat, katanya demi rakyat
Namun rakyat hanya diperalat demi keinginan untuk bisa menjabat
Meskipun hanya sesaat
Apa mereka tidak takut kualat ?
Sang Saka Merah Putih yang dielu-elukan sang pejuang , kini terklihat semakin kotor
Oleh noda ulah serakah sang koruptor
Yang tak pernah sadar, tak pernah belajar
Malahan semakin tambah kurang ajar
Menyebalkan, menjengkelkan, rasanya tak sabar dan gregetan hati ini
Tapi hendak dikata apa? Memang telah dan banyak terjadi
Yang kini harus sama-sama kita hadapi, demi generasi nanti
Kenapa kita tak bisa pandai-pandai ?
Sebab, sana-sini maunya bertikai
Beda prinsip sedikit maunya berkelahi
Sepertinya sulit adanya cara damai
Apakah ini akibat orang semakin banyak ingin bikin partai ?
Masalah-masalah,................. timbul masalah lagi
Entah siapa yang salah dalam hal ini
Yang jelas tidak ada yang mau mengakui
Malahan saling caci maki, tepuk dada diri sendiri, dari wong cilik hingga lembaga tertinggi
Itu semua yang sempat kusaksikan diberita-berita kaca televisi
Yang dipenuhi kata janji-janji
Itulah mungkin, kita tlah renggang dengan ilahi
Sebab adanya kemunafikan, kesombongan demo kepentongan pribadi
Semoga Tuhan mengampuni
Serta dikaruniai ” Nugroho Pranoto Lestari ”, Asri ”
Aman, sejahtera, rukun, indah bagi mubi pertiwi tercinta ini
Amin, amin, amin, yaaaa Robbi..............
” Ojo sawenang-wenang yen lagi menang, menlestari menang ”
” Lan sing biso ngalah yen lagi lagi kalah, men ora lestari kalah ”
Ingat sakit selagi dikaruniai sehat
Ingat miskin selagi kaya
Ingat yang lemah selagi kuat
Ingat kalu jadi bawahan, selagi ada kesempatan menjadi atasan
Ingat jadi rakyat selagi menjabat dan
Ingat kalau jadinya di ”dor” seandainya jadi koruptor
Ah ..........jangan. Jangan, tidak mungkin itu terjadi
Yang jelas, selalu-sealu ingat dan bersyukurlah kepada Yang Maha Kuasa
Alhamdulillah
Demikian terima kasih.
Jalan Asri, Villa Inti Persada C satu dua puluh tujuh
Detik-detik sebelum jam sepuluh, Tujuh Belas Agustus Dua ribu Tujuh
Ahmad Budi Handaru Purnomo Putro (*)
